Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Wednesday, 9 May 2012

Mempertanyakan Tuhan


Ada seorang pemuda yang lama bersekolah sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Orangtuanya sangat gembira menyambut kepulangannya. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama begitu melihat anaknya yang semata wayang tersebut tidak pernah lagi melakukan shalat. Padahal saat masih remaja, anaknya terbilang rajin sekali beribadah.

Ketika orangtuanya menanyakan perilakunya tersebut, ia meminta kepada orang tuanya untuk dicarikan seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendatangi seorang kiyai dan mengajaknya untuk menemui anaknya.

Pemuda : “Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”

Kyai : “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.”

Pemuda: “Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”

Kyai : “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”

Pemuda : “Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras...

Pemuda : (sambil menahan sakit) “Kenapa anda marah kepada saya?”

Kyai : “Saya tidak marah... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”

Pemuda : “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”

Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit.”

Kyai : “Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”

Pemuda : “Ya!”

Kyai : “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!”

Pemuda : “Saya tidak bisa.”

Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama... kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.”

Kyai : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”

Pemuda : “Tidak.”

Kyai : “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?”

Pemuda : “Tidak.”

Kyai : “Itulah yang dinamakan takdir.”

Kyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”

Pemuda : “Kulit..”

Kyai : “Terbuat dari apa pipi anda?”

Pemuda : “Kulit.”

Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda: “Sakit."

Kiyai : “Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.”
Read More
Saturday, 21 April 2012

You're What You Think


Dikisahkan, seorang ibu muda memiliki 2 orang putra. Sayangnya si putra bungsu mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir yang lamban, tidak memiliki kecerdasan seperti sang kakak. Jadilah dia anak yang pemalu, rendah diri dan sering dilecehkan oleh teman2 di sekolahnya.

Tugas sebagai ibu merangkap tulang punggung keluarga, membuatnya kelelahan, sehingga kelambanan si bungsu pun sering menjadi sasaran kemarahan dan kejengkelannya. Kata-kata kasar, seperti: "dasar anak bodoh" dan sejenisnya seolah menjadi santapan sehari-hari buat si bungsu.

Ucapan sang ibu maupun ejekan dari teman-teman, meyakinkan si bungsu bahwa dirinya anak yang menyusahkan dan memalukan keluarganya. Kekecewaan terhadap diri sendiri tercermin pada kegiatan yang dilakukan dari hari ke hari. Setiap bangun pagi, saat menatap wajah sendiri dari pantulan kaca cermin, dia memulai kegiatan dengan menyapa diri yang ada di cermin sambil berucap lirih dan sedih, "Si bodoh sedang mencuci muka", "Si bodoh mulai menyikat gigi," "Si bodoh lagi mandi," "Si bodoh berangkat ke sekolah," dan seterusnya.

Waktu terus berjalan …

Diceritakan, sebagai warga negara dewasa, ada wajib militer yang harus dijalani. Maka, si putra bungsu ini pun mendaftar dan mulai mengikuti berbagai tes: tes kesehatan, tes kemampuan fisik, dan tes yang lain. Saat hari pengumuman, dia dipanggil menghadap ke dewan penguji.

"Ah... Aku si bodoh, bisakah lolos tes kali ini?" katanya dalam hati, sambil memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Sungguh tidak diduga sama sekali, hasil tesnya ternyata mendapat pujian tertinggi dari dewan penguji. "Selamat anak muda! Hasil tes Anda luar biasa!! Anda sungguh pemuda yang hebat dan berbakat." Mendapat pujian seperti itu, dia seolah tidak mempercayai telinganya sendiri. Kata-kata dewan penguji adalah penemuan sisi baru dirinya yang tidak diketahui sebelumnya. Suara itu terus bergema di pikirannya, menumbuhkan kebanggaan, memotivasi setiap sikap dan tindakannya yang mencerminkan bahwa dirinya orang hebat dan luar biasa. Mulailah siklus hariannya berubah, "Aku, orang hebat sedang mandi," "Si hebat mencuci muka," "Pemuda berbakat lagi mengosok gigi," dan seterusnya. Kepercayaan diri dan citra dirinya meningkat luar biasa.

Hingga 20 tahun kemudian, si bungsu membuktikan dirinya sebagai salah seorang pengusaha sukses yang disegani, dihormati, dan menerima banyak penghargaan.


Teman-teman yang Luar Biasa!

Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita. Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benak kita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku.

Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan.

Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT U THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap!

Salam sukses luar biasa!!

[Andrie Wongso]
Read More
Wednesday, 4 April 2012

Sebelum Engkau Mengeluh


Hari ini, sebelum Engkau berniat untuk mengucapkan perkataan buruk
Pikirkanlah seseorang yang ditakdirkan tidak bisa berbicara

Sebelum Engkau mengeluhkan rasa makanan
Pikirkan seseorang yang tidak punya makanan sama sekali

Sebelum Engkau mengeluh tidak cukup akan sesuatu
Pikirkan seseorang yang harus mengemis di pinggir jalan

Sebelum Engkau mengeluh tentang perkara yang buruk
Pikirkan seseorang yang sekarang dalam keadaan terburuk dalam hidupnya

Sebelum Engkau mengeluh tentang suami / istri mu
Pikirkan tentang seseorang yang menangis sedih memohon pasangan hidup kepada Allah

Hari ini sebelum Engkau mengeluh tentang kehidupan
Pikirkan tentang seseorang yang telah meninggal dunia

Sebelum Engkau mengeluh tentang putra-putri Engkau
Pikirkan tentang seseorang yang ditakdirkan untuk tidak dikaruniai putra-putri

Sebelum Engkau marah karena rumah yang kotor dan tidak ada orang yang membersihkan
Pikirkan tentang orang-orang yang harus tidur di pinggir jalan

Sebelum Engkau mengeluh tentang jarak yang harus ditempuh saat mengemudi
Pikirkan tentang seseorang yang harus berjalan untuk menempuh jarak itu

Sebelum Engkau mengeluh lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Engkau
Pikirkan seorang pengangguran, seseorang yang sulit mencari pekerjaan,
dan seseorang yang menginginkan pekerjaan Engkau sekarang

Sebelum Engkau menuduh seseorang atau tidak setuju terhadap pendapatnya
Ingatlah bahwa tiada seorang pun hidup tanpa dosa dan cela

Dan kita akan menghadap dan menjawab kepada-Nya.
Read More
Thursday, 15 March 2012

Nasehat Bijak Untuk Anak


Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki-laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tidak lama kemudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

"Andika, kamu nanti datang kantor Bapak, jam 3 sore." Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika berwajah pucat pasi.

"Baik Pak," ia menjawab lemah. Habis aku! Pasti akan dimarahi dan dikenai sanksi gara-gara perkelahian tadi, begitu pikir Andika.

Tepat pukul 3 sore, Andika telah ada di depan kantor dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Jantungnya berdegup keras dan tubuhnya serasa lunglai.

"Masuk!" terdengar suara dari dalam. Andika pun masuk. Dengan takut-takut, ia berdiri dekat meja kepala sekolah, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Duduklah Andika. Kamu tentu sudah bisa menebak, kenapa Bapak memanggilmu kan? Tentu berkaitan dengan perkelahianmu tadi," kata kepala sekolah yang diikuti anggukan kepala Andika.

Lanjutnya, "Andika telah melanggar peraturan tentang tidak boleh berkelahi di dalam lingkungan sekolah, apalagi di kelas. Tetapi ada beberapa hal yang ingin bapak sampaikan berkaitan dengan kasusmu ini. Pertama, bapak senang kamu datang tepat waktu, itu menunjukkan kamu adalah anak yang disiplin." Beliau membuka laci mejanya, mengambil sebuah permen, dan meletakkannya di meja.

"Kedua, bapak menghargai kedatanganmu saat ini. Artinya kamu menghargai bapak sebagai guru dan kepala sekolahmu. Kamu adalah anak yang berjiwa besar dan siap bertanggung jawab. Betul begitu Andika?' Kembali Andika mengiyakan dalam diam. Beliau mengambil permen dan meletakkannya lagi di meja.

"Bapak sudah berbicara dengan guru yang melerai perkelahian dan mendengar dari beberapa temanmu. Kamu berkelahi dengan Rudi karena membela teman perempuan yang dilecehkan olehnya. Benar begitu? Bapak salut. Ini pertanda kamu adalah seorang gentleman, laki-laki sejati. Tapi ingat: berkelahi bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Andika harus lebih bijak dan jelas, bukan dengan berkelahi seperti tadi." Kepala sekolah meletakkan sebuah permen lagi di atas meja.

"Nah yang terakhir, karakter positif yang telah Andika tunjukkan hari ini harus dipertahankan dan dikembangkan di masa depan. Bapak yakin kamu akan berubah dan akan maju di kemudian hari. Belajar lebih baik Andika, oke?" Sambil tersenyum, beliau menambahkan satu buah permen lagi di meja dan menyodorkan permen-permen tersebut ke arah Andika. "Ambillah hadiah dan kenang-kenangan dari Bapak ini!"

Andika yang awalnya ketakutan akan mendapat hukuman, dan tidak menyangka justru mendapat "penghargaan" dari kepala sekolahnya, mengangguk mantap. "Terima kasih Pak. Saya sangat terkejut. Bapak tidak menghukum saya bahkan memuji dan menghargai saya. Saya berjanji, pasti berubah dan akan lebih rajin belajar untuk masa depan saya sendiri."

Pembaca yang Bijaksana,
Betapa pentingnya nilai budi pekerti ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Kita tahu, mereka kadang melakukan kesalahan tetapi kalau cara kita sekadar keras dengan hanya menghukum tanpa diberi pengertian yang baik, tentu akan melahirkan ketidaksehatan perkembangan mental. Antara lain, bisa menimbulkan sakit hati, dendam, kebencian, depresi, putus asa, dan sifat-sifar negatif lainnya.

Akan tetapi bila kita mampu memberikan pengertian sekaligus menanamkan budi pekerti yang baik, sekalipun ada hukuman, tetap nilainya akan berbeda. Harga diri dan kepercayaan diri anak-anak tetap terjaga dan sangat positif dalam pertumbuhan di kehidupan mereka selanjutnya.
Read More
Tuesday, 6 March 2012

Kesederhanaan


Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah henti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya.

Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik: kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah menatap ke bawah.

Itulah kenapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas, tanpa terasa kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan berkarat sama sekali.

Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya.

Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba wah. Ada bahasa yang sedang diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”

Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi.

Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Biasanya, nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bisa berkali-kali lipat.

Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi.

Mungkinkah perilaku konsumsi seperti itu hinggap dalam diri umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauhmana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang jauh dari sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika tampilan bisa dianggap lebih.

Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih.

Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.

Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.

Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.

Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiapkali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian.

Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa?

Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.

Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.
Read More

Sebuah Proses Hidup


Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, "apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?" atau "kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?" Here is a wonderful explanation...

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota. Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan."Yaiks," ujar anaknya. "Bagaimana dgn telur mentah ?" "You're kidding me, Mom." "Mau coba tepung terigu atau baking soda ?" "Mom, semua itu menjijikkan!!."

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya kan menjadi sempurna tepat pada waktunya.

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita. Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.
Read More

Apa Jawabanmu ??


Alkisah, disebuah rumah sederhana, seorang ibu memiliki dua orang anak perempuan, keduanya cantik dan pintar. Suatu hari setelah makan malam sang ibunda berbincang kepada kedua anak gadisnya itu. “Anak-anak bunda yang cantik, ini bunda berikan pertanyaan dalam secarik kertas, tolong tulis jawabannya sesuai dengan isi hatimu ya nak".

Apa jawabanmu???

Ibu itu memberikan dua lembar kertas dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaannya seperti ini :

Duhai anakku yang cantik,

Siapakah orang yang paling kau teladani?
Siapa yang paling kau benci?
Siapa yang paling kau sukai?
Siapa yang ingin kau contoh dan kau ingin menjadi dirinya di dunia ini?
Pertanyaan terakhir, Apa cita-citamu anakku?

Melihat pertanyaan sang ibunda masing-masing gadis itu menjawab penuh semangat di tempatnya masing-masing dan tak berapa lama kertas itu mereka kembalikan ke tangan sang ibunda.

Awalnya sang ibunda membaca kertas yang diberikan anak bungsunya yang berumur 18 tahun, isinya begini:

"Orang yang paling aku teladani adalah Obama, karena dia hebat bisa meminpin negara adikuasa dan menjadi presiden Amerika. Aku mau meneladani perjuangannya sehingga bisa hebat seperti dia.
Orang yang paling aku benci ya Krisdayanti karena cerai sama Anang.
Kalau orang yang paling aku sukai adalah Beyonce dan Shakira, karena suaranya dan bodynya bagus, apalagi kalau nari.. waw… aku paling suka deh..
Ehm.. jawaban yang ke empat aku belum tahu siapa bunda… nanti deh aku jawab… ok?????
dan jawaban tentang Cita-citaku adalah aku ingin menjadi orang kaya raya. :)"

Membaca jawabban si bungsu sang ibunda hanya tersenyum tipis dan mengelus kepala anaknya.

Selanjutnya sang ibunda membaca kertas yang kedua dari putri sulungnya yang berusia 19 tahun, isinya begini :

"Bundaku tersayang, orang yang paling aku teladani didunia ini ada dua, yang pertama adalah Nabi Muhammad SAW, beliau adalah tauladan seluruh umat, kekasih yang diidam-idamkan, Allah saja sangat mencintainya apalagi aku… aku sangat mencintainya dan segala akhlak terpuji yang dimilikinya, beliaulah suri tauladanku bunda. Yang kedua adalah dirimu bunda, karena kau begitu hebat dalam semua sisi, ibu yang baik bagi kami, istri yang baik bagi suamimu dan anak yang baik bagi orang tuamu.

Bunda, orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang merusak kedamaian dunia, penguasa yang zalim, orang-orang yang menyiksa anak kecil, orang yang menzalimi kaum papa, orang yang mengacuhkan anak yatim, orang yang menghina orang miskin, anak yang durhaka kepada kedua orang tua, dan suami yang menzalimi anak istri.

Bunda, orang yang paling aku sukai adalah orang yang baik akhlaknya, luhur budinya, halus perkataannya dan orang itu adalah dirimu.

Bunda, orang yang ingin aku contoh dan aku ingin menjadi dirinya ada tiga, yang pertama adalah Fatimah Az Zahra (Putri Rasulullah), beliau adalah wanita yang sangat dicintai Rasulullah karena akhlak dan pribadinya sangat mulia bahkan Muhammad pernah bersabda: "Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, aku pun mencium putriku, Fatimah." dan aku ingin seperti dirinya. Yang kedua adalah Asiyah (istri firaun), beliau adalah sosok wanita yang lemah lembut dan berbudi pekerti yang luhur. Dalam dirinya terpancar kebaikan, teguh pendirian dan keimanannya. Keteguhan iman dan kesabarannya melalui sekian cobaan berat dalam kehidupan dunia meninggalkan ibrah yang akan terus di kenang dan diikuti oleh wanita-wanita muslimah di sepanjang zaman. Maka apakah yang lebih pantas didapatkan oleh wanita mulia seperti Asiyah melainkan Syurga yang tiada bandingannya. Aku sangat ingin menjadi dirinya. Dan yang ketiga adalah Aisyah (istri Muhammad SAW). beliau tak hanya cantik lahirnya, sopan tutur katanya, dan lembut perilakunya, tetapi juga dikenal sebagai wanita yang cerdas. Aku juga ingin seperti dirinya bunda.

Dan cita-citaku adalah menjadi anak yang berbakti kepada orang tuaku, menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anakku kelak dan menjadi orang yang berguna bagi kebaikan bangsa, negara dan umat."

Sang ibunda terharu membaca jawaban anak sulungnya, diciumnya pipi anaknya dan ditunjukkannya kertas itu kepada si bungsu. Ketika sang adik membaca tulisan sang kakak, air matanya menetes, lalu ia berkata. “Bunda, aku malu sekali sama kalian, aku juga malu dengan jawaban-jawabanku tadi, sekarang aku sudah tau jawaban dari pertanyaanmu yang keempat tadi, aku ingin sekali seperti kakakku, dialah orang yang ingin aku contoh karena sangat bijaksana dalam segala hal..."

Sahabat-sahabatku yang baik, jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada kita kira-kira seperti apakah jawaban kita?????
Read More
Monday, 5 March 2012

Tamak?? Lihat Rasul Kita


1 ) Hadist riwayat Amru bin Auf ra, ia berkata: Rasulullah bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)

2 ) Hadis riwayat Aisyah ra, ia berkata: Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274)

3 ) Hadis riwayat Aisyah ra, ia berkata: Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)

4 ) Hadis riwayat Aisyah ra, ia berkata: Ketika Rasulullah wafat, di lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim No.5281)

5 ) Hadis riwayat Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284)

6 ) Hadis riwayat Abu Hurairah ra, ia berkata: Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286)

Kurma, air, kurma, air, kurma, air..
Rasulullah tidak pernah mengenyangkan dirinya sendiri, kebahagiaan umatnya adalah kebahagiaan yang paling utama. karena rasulullah cinta akan umatnya.

Kita???
makan enak dan bersisa, makan enak dan merasa kurang, makan enak dan dibuang-buang, makan enak dan lupa berbagi, makan enak dan lupa bersyukur. yaaaah, kita lebih mengutamakan kesenangan diri kita sendiri.

Bersyukurlah kita masih bisa menikmati makanan yang luar biasa enak, syukuri apa yang kecil karena dari yang kecil itu kita akan mendapatkan nikmat yang besar.
Read More
Friday, 17 February 2012

Cantik Itu Dari Hati


Suatu ketika, ada jerawat nonggol di wajah ophik. dia benar-benar sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. karena jerawat itu telah berhasil menyempurnakan rasa mindernya. sekarang dia susah sekali untuk bergaul dengan teman-temannya. dia merasa tidak cantik dan tidak menarik lagi. hal yang berbeda dialami oleh lydia. syudah selama setengah tahun ini dia mencari pemutih wajah yang cocok dengan kulitnya. dia ingin sekali tampil seperti artis yang menjadi bintang iklan produk pemutih wajah seperti ditelevisi. dia ingin menjadi lebih cantik dan lebih diperhatikan. dia juga ingin disanjung dan dipuji oleh banyak orang diluar sana. satu kata yang ingin didengar telinganya adalah "aduuuhhhhh, kamu cantik buangetttttt" *geli ndengernya

Begitulah, sebagian besar dari kamu ingin banget tampil cantik. sayangnya, kamu hanya berfikir, bahwa cantik itu hanya soal wajah yang putih, hidung yang mancung dan pakaian yang modis. tidak pernah ada yang berfikir bahwa cantik itu adalah akhlak yang bagus, tutur kata yang santun, pribadi yang rendah hati (ini cantik menurut saya lhooo). cantik itu adalah punya kecerdasan emosi yang stabil, cantik adalah punya kepribadian yang sholehah.

Maka wajar bila akhirnya kamu kecapekan, capek ngikutin produk-produk kecantikan yang semakin banyak dan semakin mengoda. kelelahan mengejar tuntutan orang untuk disebut cantik. segala krim diolesin, namun hasilnya jauh panggang dari api. wajah bukan semakin cantik, malah semakin tidak karuan. kulitmu menjadi aneh warnanya, tidak putih, tidak hitam. rambutpun ikut rusak karena sok diapa-apain biar lurusss :D hahahahaha

Coba kita berfikir sejenak, kenapa sih kita ngejar cantik hanya untuk sebuah pujian??? kenapa kita tidak hidup sehat saja. sehat jasmani dan rohani. pikiiran kita jernih dan bersih dari hal-hal yang tidak sehat atau yang membuat kita minder. berfikir positif dan selalu memandang masa depan dengan optimis. bersyukur dan menghargai diri sendiri. kalau kita merasa kurang terus dalam soal penampilan, maka kita bisa jadi kurang bersyukur dengan apa yang diberikan allah. hidung, mata, alis dan bibir sudah sangat sempurna masih saja merasa kurang. tubuh sudah bagus masih saja mesara kurang. pikiran kita akhirnya penuh dengan rasa kecewa yang membuat kita tidak bahagia.. yeey itu pasti pernah dan sering dirasakan cewek-cewek remaja. move on yaaah :)

Syukurilah apa yang ada dengan selalu berterima kasih kepada allah "terima kasih, ya allah atas nikmat yang telah kau berikan padaku.." karena kalau kita bersyukur, nikmat bakalan ditambah oleh allah. tapi kalau kita sukanya mengeluh melulu, nikmatnya malah bakalan dicabuuuttttttt. berhentilah berfikir klo cantik itu mesti harus dari sisi fisik. ketahuilah, bahwa fisik kita akan menjadi cantik kalau jiwa dan penerimaan kita juga cantik. kepribadian cantik juga akan membuat iner beuty kita keluar. *bikin cowok klepek-klepek. dan pasti akan merasa semakin cuantikkkkk. cantik bukan karena pakaian yang mahal, yang uptodate, kosmetik dan parfum yang berlebihan, ataupun gaya yang terlalu menawan. tapi, cantik itu dari hati yang memancar dengan tulus tanpa rekayasa. kamu tidak akan menjadi cantik hanya karena memakai handphone yang bagus. bukan juga karena mengendarai mobil atau motor yang bagus pula, tapi kamu akan menjadi cantik ketika kamu dekat dengan allah, percaya akan ketentuanNya, dan mau menjadi muslimah yang shalehah. hehheehheeee

belajarlah bersyukur kepada tuhan, karena dari situ. kalian akan temukan kecantikan yang sesungguhnya. YOU're BEAUTYFULL
kamu cantik, cantik dari hatimuuuuuuu *cherlybale wkwkwkwkkwkwkw
semoga bermanfaat :)
Read More
Monday, 13 February 2012

Sepenggal Kisah (Cermin Perlakuan)


Dulu sekali di negeri Cina, hiduplah seorang gadis bernama Li-Li yang menikah dan tinggal di wisma mertua indah. Dalam tempo singkat, Li-Li tahu bahwa ia tidak cocok sama sekali dengan ibu mertuanya. Karakter mereka jauh berbeda, dan Li-Li sangat berang terhadap banyak kebiasaan ibu mertuanya. Juga, mertuanya itu terus menerus mengritiknya.

Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang memperburuk suasana ialah adat kuno Cina di mana Li-Li dituntut harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya. Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sangat sederhana.

Akhirnya, Li-Li tidak bisa tahan lagi terhadap sifat buruk dan kesewenang-wenangan ibu mertuanya, dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu. Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya yaitu tuan Wang yang mempunyai Toko Obat Cina. Ia menceritakan situasinya dan minta diberikan ramuan racun untuk dapat menuntaskan masalahnya dalam sekali pukul.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak dan akhirnya berkata: “Li-Li, saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan.” Li-Li berkata, “OK pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang bapak katakan yang harus saya perbuat.”

Sinshe Wang masuk ke ruang belakang, dan kembali beberapa menit kemudian dengan sebungkus ramuan obat. Ia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya. Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Maka, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

Li-Li sangat bahagia. Ia berterima kasih kepada tuan Wang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencananya untuk membunuh ibu mertuanya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan telah lewat, dan setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang sudah “dibumbuinya”. Ia mengingat semua petunjuk tuan Wang tentang hal mencegah kecurigaan, maka mengendalikan amarahnya, mentaati ibu mertuanya dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.

Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam keluarga itu berubah secara drastis. Li-Li sudah mampu mempraktekkan pengendalian amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal.Ia tidak pernah berdebat dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia menemukan bahwa ibu mertuanya kini tampaknya lebih ramah dan lebih mudah untuk diajak hidup bersama.

Sikap ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan ia mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang mungkin ia peroleh. Li-Li dan mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi ini.

Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, “Pak Wang yang baik, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya jangan sampai membunuhnya! Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia sampai mati karena racun yang pernah saya berikan kepadanya.”

Tuan Wang tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk memperbaiki kondisi kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada ialah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya, tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.”

* * * * *

Sadarkah anda bahwa sebagaimana anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan anda? Ada pepatah Cina kuno yang berkata: “Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya.” Tuhan mungkin mencoba bekerja di dalam kehidupan orang lain melalui anda.
Read More
Sunday, 29 January 2012

Tuhan Pernah Berbisik


Ketika aku kirimkan padamu seorang teman,
Aku tidak memberikan sesorang yang sempurna karena engkaupun tak sempurna.
Aku mempertemukanmu dengan teman-teman yang sama denganmu, sehingga kalian dapat saling mengisi, berbagi dan bertumbuh bersama.

Jika kamu memancing ikan, ketika ikan itu terikat di mata kail, hendaklah angkat dan jagalah ia dengan baik.
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia begitu saja.
Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kailmu.
Begitulah juga dalam kehidupan.
Janganlah kamu banyak memberi banyak pengharapan kepada seseorang, bila memang rasa itu tak pernah ada..

Ketika kamu menyukai seseorang dan ia mulai menyayangimu, hendaklah kamu bisa menjaga hatinya.
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja.
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh, tapi cukupkan sebatas apa yang kamu perlukan.
Karena bila sekali ia retak, akan sukar bagimu untuk menjadikannya kembali seperti semula.
Akhirnya kamu akan kecewa dan ia akan dibuang.

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya.
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.
Anggaplah ia manusia biasa.
Sehingga apabila sekali ia melakukan kesilapan maka akan lebih mudah bagi kamu untuk menerima ketidaksempurnaannya dan memaafkannya.
Berbagilah kasih, berusahalah saling menerima dan peliharalah sifat mudah memaafkan, dengan demikian persahabatan menjadi lebih indah.

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik, putih dan sehat untuk dirimu, mengapa kamu harus berlengah dan mencoba mencari makanan yang lain ?
Begitu juga ketika kamu bertemu dengan seorang yang membawa kebaikan kepada dirimu, menyayangimu, mengasihimu dengan tulus dan sepenuh hati, mengapa kamu harus berlengah dan mencoba membandingkannya dengan yang lain?

Ingatlah, jangan pernah mengejar kesempurnaan, karena kelak, kamu akan kehilangan yang terbaik yang sudah kau raih dan kamu akan menyesal.

Ya Tuhan, terima kasih bisikan indahmu.
Aku mohon ya Tuhan, ketika aku menyukai seorang teman, tolong ingatkanlah aku bahwa di dunia ini tak akan pernah ada sesuatu yang abadi.
Pada masanya, segala sesuatu itu pasti akan berakhir. Sehingga ketika seseorang meninggalkanku, aku akan tetap kuat dan tegar karena aku bersama Yang Tak Pernah Berakhir, yaitu cinta mu ya Tuhan...

"Mencintai seseorang adalah keharusan, Dicintai seseorang adalah kebahagiaan, Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya."
Read More
Saturday, 28 January 2012

Ketika Uang Bertemu Ilmu


Uang memang menjadi sesuatu kebutuhan primer didunia ini, dengan uang jugalah manusia membeli semua macam materi kehidupan yang di inginkan. Hampir semua manusia membutuhkan uang, dari orang miskin yang membutuhkan kedermawanan seseorang untuk memberinya sedikit uang agar bisa makan, seorang kepala rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan uang sebagai bentuk nafkah (biaya kehidupan) untuk istri dan anak-anaknya, sampai ke seorang konglomerat sekalipun yang masih menginginkan pelebaran bentuk usaha untuk menambah pundi-pundi harta yang telah ia punya.

Sedangkan ilmu, (sebagaimana jaman rasul ilmu primer adalah agama, karna rasulpun tidak pernah belajar sains ataupun ilmu kesehatan, akuntansi, dll) bisa mengajarkan kita cara mencari rizki yang halal dan mensyukuri berapapun banyak harta yang kita miliki, mengajarkan kita mencari nafkah halalan toyiban, membimbing kita agar adil terhadap harta yang kita miliki dengan cara berzakat dan bersodaqoh sesuai kemampuan masing-masing, membukakan mata hati kita agar senantiasa berbagi kepada yang kurang mampu atau yang membutuhkan.

Tapi bukalah mata hati anda dalam-dalam sebelum membaca kalimat dibawah ini, helai nafas panjang, buka fikiran, bersiaplah untuk membaca dengan hati kalian.

Dengan uang manusia bisa membeli baju mewah, tapi tidak bisa membeli akhlak mulia.
Dengan uang manusia bisa membeli banyak al-quran tidak bisa membeli pahala.
Dengan uang manusia bisa mendirikan tempat ibadah tapi tidak bisa membeli syurga yang kekal.


Tapi dengan ilmu??? Kebalikannya


Manusia berakhlak mulia belum tentu mengingikan baju mewah dan megah, cukup dengan sesuatu yang sederhana. Manusia berilmu bisa mendapat pahala dari ilmu yang ia amalkan dan ia ajarkan meskipun belum tentu bisa membangun rumah ibadah. Dengan mempelajari alquran manusia tau kemana arah hidup yang akan ia tuju sehingga ia mendapat tuntunan dari allah azza wajalla untuk berjalan menuju surga.

Manusia harus menjaga harta mereka agar tidak berkurang akan tetapi sebaliknya ilmu menjaga manusia agar selalu berada dalam jalan yang benar.

Harusnya manusia tidak perlu bingung memikirkan harta yang mereka punya selama mereka masi berilmu, mereka hanya perlu berusaha dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya sekarang. kadang harta yang berlebih membuat manusia semakin tamak, ingin menguasai aliran harta didunia, melupakan ibadah yang seharusnya mereka lakukan karena sibuk akan dunia kerja mereka. akan tetapi beda dengan ilmu, semakin manusia mempunyai banyak ilmu maka manusia itu semakin tunduk dan patuh akan aturan allah azza wajalla. mereka menyadari rejeki itu datangnya dari allah dan hilangpun atas kehendak allah.

Menyesal karena kalian tidak lahir dikeluarga yang kaya raya??? tidak perlu!!! kalian harusnya menyesal ketika kalian terlahir sebagai orang yang kaya akan harta, tapi miskin akan ilmu. kalian harusnya menyesal ketika kalian bisa mengeluarkan uang untuk membeli baju setiap minggu tapi tidak sepeserpun keluar untuk sedekah. kalian seharusnya menyesal ketika kalian tidur dikasur yang empuk, tapi hati kalian selalu gelisah karena lupa kepada tuhan. kalian harusnya menyesal ketika kalian bisa mengunakan uang untuk mencari ilmu tapi kalian hanya mengunakannya untuk kesenangan. kalian harusnya menyesal ketika kalian bisa dengan mudah berbuat baik dengan mengunakan uang, tapi kalian hanya menaburkan dosa atas uang yang kalian miliki. dan kalian harusnya menyesal ketika uang yang anda punya bukan menjadi sesuatu yang bisa membawa kedalam ridho allah tapi malah membawa kalian kedalam lembah kenistaan.

semoga tuhan memberikan uang yang berkah dan ilmu yang barokah untuk kehidupan kita.
Read More
Saturday, 21 January 2012

Hidup Yang Tertidur


Untuk dapat menikmati hidup, hal penting yang perlu anda lakukan adalah menjadi sadar. inti kepemimpinan adalah kesadaran, dan inti spiritualitas juga sama yaitu kesadaran. banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan "tertidur". mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak hingga akhirnya meninggal dalam keadaan tertidur.

analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. anda tahu dimana menyimpan uang, juga tahu persis berapa nomor pinnya, andapun menyerahkan uang tersebut kepada orang yang tidak anda kenal. anda tahu, tapi tidak sadar. karena itu, anda bergerak seperti robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang dan harta benda.

pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. anda tahu, bahwa berolah raga penting untuk kesehatan, tapi anda tidak juga melakukannya. anda tahu memperjual belikan jabatan adalah hal salah, tapi anda menikmatinya. anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi anda tak kuat menahan goda (aku banget ini). itulah contoh tahu tapi tidak sadar.

kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. banyak tokoh meninggal begitu saja. mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal saling menuduh, berjuang mencari jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. bayangkan kalo anda sedang menonton bioskop, pertunjukan sedang berlangsung seru tiba-tiba listrik padam. petugas bioskop berkata : "silahkan pulang,pertunjukan sudah selesai". anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. tapi, si petugas hanya berkata tegas "pertunjukan sudah selsai, dan listrik tidak akan pernah hidup kembali"

hidup ini seringkali menipu dan menina-bobok-kan. untuk menjadi bangun kita harus sadar tiga hal,yaitu siapa diri kita, dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali. untuk itu, kita harus sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

ada sebuah ungkapan menarik dari filosofis perancis, namanya teilhard de chardin, "kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, tapi kita adalah mahkluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi". manusia bukanlah mahkluk bumi, melainkan makhluk langit. kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati bumi. tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. tubuh diperlukan karena sebagai syarat untuk tinggal dibumi. tapi, lama kelamaan tubuh ini akan menurun nilai gunannya dan rusak. pada saat itu jiwa kita akan kembali kepada yang menciptakannya. keadaan ini disebut meninggal dunia, ini bukan berarti mati. yang mati hanya tubuh kita bukan jiwa kita.

coba diresapi dalam-dalam paragraf diatas. badan kita akan mati, tapi jiwa kita akan tetap hidup. kalau anda menyadari hal ini, maka anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. kita memang perlu hidup, perlu makan, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. bila telah terpenuhi semua kebutuhan tersebut, sudah cukup! buat apa sibuk mengumpulkan kekayaan-apalagi menyalah gunakan jabatan, tapi hasilnya tidak anda nikmati selamanya. apalagi anda telah merusak jiwa anda sendiri dengan berlaku dzalim. padahal, jiwa inilah yang milik kita yang abadi.

lantas apakah kita sendiri yang harus mengalami peristiwa yang pahit itu agar kita sadar??? jawabannya : YA!!!! tapi, jika cara tersebut terlalu mahal, maka cara yang kedua ini bisa anda lakukan. yakni : belajarlah mendengarkan. dengarkan dan belajarlah dari pengalaman orang lain. bukalah mata dan hati anda untuk mengertti, mendengar, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma anda. sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapatan mereka sendiri. bukannya untuk mendapat sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. orang seperti ini berarti masih "tertidur" dan belum sepenuhnya "terbangun". bacalah ini dengan hati yang terbuka, insya allah ada sesuatu yang akan anda rasakan begitu dalam.....
Read More

Botol Acar


Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah (Will Rogers)

Se-tahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu."

Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku."

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah. Ayah jamin."

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping
lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku.

"Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menangis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah.

"Mungkin popoknya basah," kata susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. "Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu ke dalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan .. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata. (Buku Chicken Soup for the Parent's Soul)
Read More
Wednesday, 18 January 2012

Kebahagiaan Itu Milik Kita


Dalam sebuah kesempatan steven covey (penulis buku seven habbit), mengankat sebuah gelas air dan bertanya kepada siswanya, "seberapa berat segelas air ini??" para siswa menjawab antara 200-400 gram. mendengar jawaban itu kemudia steven covey berkata "ini bukan masalah berat absolutenya, tapi tergantung berapa lama kita memengangnya. jika saya mengangkat selama 1menit, tidak ada masalah. jika saya mengangkatnya selama 1jam, lengan kanan saya akan sakit. jika saya mengangkatnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus membawa saya ke rumah sakit terdekat" hahahaha...

"Berat sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memengangnya, maka bebanya akan semakin berat. jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. beban itu akan meningkat beratnya. apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi" lanjut steve covey...

Masing-masing orang memiliki kualitas dan kuantitas masalah yang berbeda, berikut bentuk penyikapannya. ada orang mendapatkan masalah ringan, tapi dirasakan begitu pelik dan berat sehingga merasa stres dan sedih berkepanjangan. namun, ada yang sebaliknya, mendapatkan masalah yang begitu berat tapi santai dalam menyikapinya. dia tetap bisa tersenyum bahagia setiap saat. baginya, masalah adalah cara terbaik untuk membuatnya tetap hidup. dan paparan steve covey diatas adalah pentingnya istirahat sejenak dalam menghadapi masalah. dibutuhkan jeda sejenak, mengistirahatkan pikiran dan hati dari berbagai keruwetan masalah.

Fokuslah pada kebahagiaan, yakini juga bahwa apa yang akan kita wujudkan didepan adalah seseuatu yang mungkin dan nikmati semua prosesnya. kehidupan bisa terasa begitu sulit dan juga bisa terasa mudah. perbedaannya pada cara kita melihat apa yang sedang terjadi. jika setiap orang memahami, bahwa segala sesuatu membutuhkan proses, maka tidak akan kaget apalagi stress jika proses untuk menggapai kebahagiaan itu ternyata panjang, berliku dan penuh rintangan.

Seberat apapun proses yang harus dijalani, jika fokus pada apa yang menjadi target dan keinginan (kebahagiaan), maka berbagai kesulitan yang menghadangjustru semakin menambahnya yakin untuk mengapai kebahagiaan tersebut. proses yang berat pasti akan menghadirkan keletihan fisik dan fikiran. bagi seorang muslim, harusnya tetap membawanya bahagia. karena kita yakin, bahwa setiap jengkal langkah atau setiap tetes peluuh tidak ada yang sia-sia disisiNya. iyaa, kebahagiaan bukan hanya sebuah angan-angan karena sebenarnya kebahagian itu milik kita semua.
Read More
Sunday, 15 January 2012

Mukjizat Untuk Satrio


Ini sebuah cerita tentang persahabatan seorang anak manusia, yang dibawanya sampai mati. sebut saja namanya arga dan satrio, dua orang ini tetanggaan, sehingga dari kecil sampai dewasa mereka sering menghabiskan waktu bersama. sekolahnya pun selalu sama, dari pagi sampai malam mereka tidak pernah terpisahkan.

Saat menginjak SMP, dua remaja ini memulai kehidupan kelamnya. mulai dari coba-coba minuman keras dan akhirnya kecanduan. menjadi orang-orang yang disegani disekolahan, kemudian digunakannya untuk memalak uang jajan teman-temannya. sering membolos, sering berantem, sering meminum alkohol dan sering membuat onar disekolahnya.

Dua remaja ini tumbuh dalam keburukan yang besar. ketika masuk ke SMA, ternyata kenakalan keduanya semakin menjadi-jadi. kini mereka beranjak mengunakan narkotika, ganja dan sabu-sabu. kecanduannya sudah terlampau parah, memainkan wanita juga sudah menjadi hal yang wajar bagi mereka. wanita hanya dianggap bahan pelampiasan nafsu, saat hamil tiba mereka memaksa para korbannya untuk mengugurkan kandungan karena tidak mau repot bertangung jawab.

Mereka tidak tau tujuan hidup yang sebenarnya, yang mereka fikirkan adalah bersenang-senang. setelah lulus SMA akhirnya mereka berbisnis narkotika,sebagai pemakai sekaligus pengedar. hidupnya berjalan sangat mulus, bisnisnya tidak pernah diendus oleh polisi dan para penyelidik.

Singkat cerita, tiba akhir dari semua kesenangan itu, arga mengalami overdosis dalam pemakaian narkotikanya. terlalu banyak obat-obatan terlarang yang dia konsumsi dalam sehari. mulutnya mengeluarkan busa, matanya tak menentu menghadap kearah mana, tubuhnya kejang-kejang merasa dalam tubuhnya panas, tak selang beberapa lama satrio membawanya kerumah sakit. dengan harap-harap cemas, akhirnya tiba juga kerumah sakit terdekat. dokterpun langsung mengambil inisiatif perawatan darurat, beberapa jam diruang ICU. akhirnya dokter keluar dengan muka yang suram, lebih suram dan sangat suram. dokter dan tim medis menyatakan arga meninggal dunia karena overdosis.

Satrio terpukul dengan kematian sahabatnya itu. hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh kenangan indah bersama arga. beberapa waktu setelah kematian arga, satrio terbiasa murung dan kurang semangat dalam menjalani hidup. masih saja dia tidak percaya bahwa sahabat dekatnya itu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Beberapa hari setelah itu, satrio mendapatkan hal yang mengubah hidupnya 180derajat. suatu ketika satrio pulang setelah membeli beer dari minimarket terdekat dari rumahnya, waktu itu menunjukan pukul 24.00. malam sangat pekat dan sepi, satrio kembali kekontrakannya dan duduk diteras depan rumahnya. satrio sedikit melamun dan tiba-tiba hal aneh terjadi. langit menjadi merah, lebih merah dan sangat merah. kepulan asap berada disekelilingnya. dan terdengar suara orang meminta pertolongan. "tolong... tolong ampuni hambaaa... panasss.... panasssss.... jangan hukum hambaa" suara itu terdengar sangat menyeramkan sehingga membuat satrio ketakutan. satrio coba menutup telingannya dan suara itu masih saja terdengar. "apaa ini???? suara apaa????" teriak satrio dengan kencang dan lantang. tak lama kemudian munculah keajaiban, muncul sesosok seseorang dengan pakaian compang-camping. satrio pun bertanya "siapa kamu???" , kemudian seseorang itu menjawab "aku arga sahabatmu, tolong aku, aku disiksa dikubur. aku lupa beribadah kepadaNya, aku lupa mendirikan sholat, aku lupa memberikan zakat, aku lupa untuk berpuasa, aku lupa melakukan kebaikan, aku berlumur dengan dosa, aku melakukan kedzaliman, aku memakan sesuatu yang haram, aku membisniskan barang haram, aku mendurhakai orang tua, aku tidak tahan dengan siksaan-siksaan ini. kuburanku disempitkan, tulang rusuku menyilang, kulitku dimakan oleh cacing-cacing ganas, temanku hanya binatang buas, hanya ada air nanah pelepas dahaku, TOLONG AKU SAHABATKU KEMBALIKAN AKU KEDUNIA AGAR AKU BISA MENEBUS SEMUA KESALAHANKU". satrio hendak berlari,akan tetapi kakinya dirasa sangat berat untuk melangkah. satrio hanya bisa memejamkan matanya, tak tahu apa yang bisa ia perbuat didalam keadaan seperti itu. satrio tak tahan mendengar kata-kata dari arga, kemudia munculah dua maklhuk tinggi besar membawa bogem yang begitu besar dan memukul arga dengan sangat keras. "DUAAAAAARRRRRRRR" begitu suaranya dan argapun menjadi puing-puing tengkorak. kemudian dijadikannya lagi manusia yang utuh, kemudian dipukulkannya lagi. "DUAAAAARRRRR" bunyi yang mengelegar sampai ketelinga satrio. "SAKIT..... AMPUUUUUN....." ujar arga saat itu. dan dipukulan ketiga, arga tidak dikembalikan kebentuk awalnya. hancur tak berbekas dan semuanya kembali kekeadaan semula. langit menjadi hitam, asap-asap itu tiba-tiba menghilang tanpa ada sisa. satrio menangis sangat kencang. dan tiba-tiba, "Pyaaarrrrrr". tangan satrio menyenggol gelas, jatuh kelantai dan pecah. satrio terbangun, ternyata apa yang dia lihat tadi hanyalah mimpinya sebelum meneguk miras.

Satrio sadar sekali saat itu, kemudian menangisi kehidupannya masa lalu. dia berfikir "suatu saat aku pasti mati dan aku akan mendapat siksa yang sama bila tidak bisa merubah hidupku kearah yang lebih baik". mungkin ini mukjizat yang diberikan untukku agar aku mengerti apa arti hidup yang sebenarnya. satrio mulai mengenang saat-saat mengaji diTPA bersama arga waktu kecil. ia berandai-andai, "mungkin bila aku memulai kebaikan dari kecil masa depanku tidak akan seperti ini". yaa allah, hamba sadar akan keagunganMu. mimpi ini adalah tamparan yang indah, karena aku bisa memulai kehidupan baruku dengan semua aturanmu, dan mulai menghapus segala kesalahanku dimasa lalu sebelum masaku habis. ujar satrio dalam hatinya.

Mulai saat itu juga, satrio menulis cerita baru dalam kehidupannya. lembaran-lembaran hidup baru yang penuh makna ia lewati setiap harinya. setiap usai sholat, ia selalu menangis bahagia. karena tuhan sudah memperlihatkan keagunganNya, dan memberinya skenario indah diakhir-akhir hidupnya. "tuhan begitu mencintaiku, sehingga Dia tidak pernah rela ketika aku akan terbakar di api neraka yang bahan bakarnya dari manusia". terima kasih tuhan, tanpamu kami tidak akan meniti kejalan yang lurus..
Read More
Thursday, 5 January 2012

Tawa Ditengah Hujan


Saat itu, hujan begitu lebatnya seperti tercurah dari langit hingga memaksa kami berteduh di bawah kanopi dekat lobby sebuah pusat perbelanjaan. Seorang anak perempuan berumur sekitar 6 tahun dengan rambut merah yang indah dan wajah yang manis, bersama ibunya berjalan keluar dari dalam mall.

Kami semua menunggu hujan reda. Ada yang sabar ada juga yang gusar karena mereka harus buru-buru meneruskan perjalanannya. Saya selalu terpukau saat melihat hujan turun. Saya selalu melihat langit yang mencurahkan air menghapus debu dan kotoran di bumi. Ingatan saya juga kembali waktu masih anak-anak bermain hujan di luar rumah. Ingatan yang sejenak menghapus segala kekhawatiran hidup.

Di tengah bermacam perasaan dari kelompok orang yang menunggu hujan reda, suara gadis kecil itu memecah keheningan yang segera menyedot perhatian dari semua orang, “Ma, ayo kita menerobos hujan,” katanya.

“Apa?” kata ibunya.

“Ayo kita menerobos hujan!” kata gadis kecil itu mengulangi permintaannya.

“Tidak sayang. Kita akan menunggu sampai hujan sedikit reda.” jawab ibunya.

Gadis kecil itu menunggu beberapa saat dan berkata lagi, “Ma, ayo kita menerobos hujan.”

“Kita bisa basah kuyup, sayang...” kata ibunya.

“Tidak, kita tidak akan basah kuyup, Ma. Ini kan seperti yang Mama katakan tadi pagi.” kata gadis kecil itu sambil menarik tangan ibunya.

“Tadi pagi? Kapan Mama bilang kalau kita menerobos hujan kita tidak akan basah?”

“Apa Mama lupa? Waktu bicara sama Ayah, Mama bilang, “Jika Tuhan menolong kita melewati masalah ini, maka Tuhan akan menolong kita melewati masalah apa pun!”

Semua orang yang yang sedang berteduh mendadak terdiam. Saat itu kami tidak mendengar suara apa pun kecuali bunyi hujan yang turun. Sunyi senyap. Tidak ada yang beranjak dalam beberapa menit.

Si Ibu terhenyak beberapa saat mendengar perkataan anak perempuannya. Orang akan menertawakannya jika dia mendebat perkataan itu. Mungkin yang lain akan mengabaikannya. Tetapi ini adalah saat yang sangat menentukan dalam kehidupan seorang anak, di mana kepercayaan yang sudah diajarkan kepadanya diuji. Apabila kepercayaan ini terbukti, akan berbuah menjadi sebuah keyakinan hidup nantinya.

“Sayang, kamu benar sekali. Ayo kita lari menerobos hujan. Jika TUHAN menginjinkan kita basah kuyup, yang kita perlukan hanyalah mandi dan mencuci baju.” kata ibunya.

Mereka berdua lalu berlari menembus hujan. Kami semua mengamati, tersenyum dan akhirnya tertawa saat melihat mereka berlari menuju ke mobil melewati hujan dan genangan air. Mereka menutupi kepala dengan tas plastik belanjaan, tetapi tetap saja tubuh mereka basah kuyup. Tetapi di tengah suara hujan, sepanjang pelarian menuju mobilnya, kami mendengar suara teriakan dan tawa mereka seperti saat anak-anak bermain hujan.

Dan akhirnya saya pun mengikuti jejak mereka. Saya berlari menembus hujan. Yang saya butuhkan hanyalah mandi dan mencuci baju...

Keadaan dan lingkungan dapat merampas apa yang anda miliki, mereka mengambil uang anda dan mereka mengambil kesehatan anda. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat merampas kenangan berharga anda. Jadi, jangan lupa untuk menciptakan waktu dan mengambil kesempatan membuat kenangan setiap hari.
Read More
Monday, 26 December 2011

Kebahagiaan Sesungguhnya Ada Dalam Diri Kita


Kebahagiaan adalah keadaan
Kebahagiaan juga sebuah rasa
Kebahagiaan bisa juga sebutir ungkapan

Sesungguhnya ...
kebahagiaan itu kondisi jiwa seseorang …
Yang tenang ... damai ... tenteram
Yang sadar ... segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah kehendak-Nya
Yang sadar ... yang menimpa dirinya adalah yang terbaik

Dirinya dapat menerima semuanya dengan hati ikhlas ...
Dengan hati syukur ...
Dirinya merasa tidak memiliki apa-apa ...
Sekaligus ... dirinya merasa telah memiliki semuanya ...
Dirinya sadar ... semua yang dimilikinya sekedar titipan-Nya
Untuk dikembalikan dengan jauh lebih baik

Kebahagiaan bukan sekedar akibat
Kebahagiaan juga penyebab

Kebahagiaan dapat menyebabkan kesedihan
Kesedihan dapat menyebabkan kebahagiaan
Kebahagiaan dapat menyebabkan kebahagiaan lainnya

Orang bijak bilang ...
Kebahagiaan harus dicari ... harus diraih
Karena kebahagiaan tidak datang sendiri
Orang bijak lainnya bilang ...
Kebahagiaan jangan dicari ... jangan dikejar
Karena kebahagiaan memang tidak dapat dikejar ...
Kebahagiaan akan datang sendiri ...
Kebahagiaan selalu ada dalam diri kita ...

Kebahagiaan ... seperti bayangan diri kita
Serasa tergenggam erat di jari
Serasa lari tanpa bekas
Tak dikejar ... mendekati

Bila kita menyadari kehadirannya
Sesungguhnya ...
Kebahagiaan tak pernah terpisah dari kita
Sejak lama telah hadir dalam diri kita
Read More
Friday, 23 December 2011

Mimpi Sejuta Dolar (love this)

Read More

Berapa Besar Bobot Doa?


Sumarni, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket.
Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.

Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja.
Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

Sadino, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar.

Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.
"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."

Sadino tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut.
"Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi.

Dia mendekati keduanya dan berkata : "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu,Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis".

Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja ?"
" Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal."
Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Sumarni menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut,lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan.

Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil,
"Aku tidak percaya pada yang aku lihat."
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.

Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi,

si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.
Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal tadi.
Dan ia-pun terbelalak.

Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek :
" Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu."

Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Sumarni, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya.

Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 500.000 rupiah kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.

Biarlah Doa ini tidak terputus, karena
DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA.
Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.
Read More
 
;